Setelah mengerjakan studi kelayakan pabrik bahan baku farmasi dengan konsultan asal Korea Selatania Farma Tbk. segera membentuk perusahaan patungan guna merealisasikan rencana tersebut

Dirut Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan rencana pembangunan bahan baku farmasi ini juga telah mendapat dukungan dari pemerintah

Jakarta – Setelah mengerjakan studi kelayakan pabrik bahan baku farmasi dengan konsultan asal Korea Selatania Farma Tbk. segera membentuk perusahaan patungan guna merealisasikan rencana tersebut

Dirut Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan rencana pembangunan bahan baku farmasi ini juga telah mendapat dukungan dari pemerintah

Kementerian Perindustrian dikabarkan siap menyokong pendanaan fasilitas tersebut melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)

”Minggu kemarin kami bertemu dengan Kemenperin. Kami sudah sampaikan rencana untuk bangun pabrik bahan baku farmasi untuk mendukung kemandirian industri,” ujarnya kepada Bisnis, Senin lalu.

Rusdi menjelaskan rencana perseroan untuk membangun pabrik bahan baku farmasi ini sebenarnya sudah dimulai sejak dua tahun lalu

Namun, industri kimia dasar yang masih belum berkembang di Tanah Air menjadi kendala. Rusdi khawatir harga jual bahan baku di dalam negeri kesulitan bersaing dengan harga bahan baku impor

Menurut Rusdi, dalam pertemuan tersebut pemerintah menunjukkan keseriusannya untuk mendukung rencana pembangunan pabrik bahan baku farmasi

Salah satu opsi yang diusulkan adalah memberikan penugasan kepada perusahaan farmasi pelat merah di bidang farmasi untuk bekerja sama. Selain Kimia Farma, BUMN farmasi lainnya adalah PT Indofarma TBk. dan PT Phapros Tbk. serta PT Biofarma Tbk.

Menanggapi hal tersebut, Rusdi mengatakan siap jika diharuskan bekerja sama dengan perusahaan lain. Namun, untuk saat ini, KAEF akan melaju dengan rencana awal yaitu berkolaborasi dengan partner luar negeri

Rusdi menjelaskan, jika bisa menekan ongkos produksi, bisnis bahan baku farmasi diprediksi sangat potensial. Khusus untuk investasi diperkirakan membutuhkan Rp 100 miliar untuk kapasitas 180 ton per tahun. Bahan baku yang akan diproduksi di pabrik ini akan digunakan untuk memproduksi enam jenis obat

Kendati demikian, rencana pembangunan pabrik ini diprediksi molor dari jadwal semula. Awalnya perseroan berharap peletakan batu pertama bisa dimulai tahun ini. Namun, rencana tersebut diprediksi tertunda karena perhitungan bisnis yang belum selesai.

Menurut Rusdi, perhitungan bisnis untuk membangun pabrik tersebut memang tidak mudah karena selama ini industri farmasi di Indonesia lebih banyak mengandalkan impor bahan baku dari China dengan harga lebih murah.

“Kami ingin pabrik bahan baku dari pabrik ini bisa lebih murah dibandingkan dengan impor,” katanya

*Bisnis Indonesia, Selasa 7 Juli 2015