Jakarta – PT Kimia Farma Tbk. mematok kenaikan pertumbuhan pasar ekspor sebesar 65% menjadi sekitar Rp 105 miliar di tahun ini.

Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Farida Astuti mengatakan kenaikan porsi ekspor ini akan didukung oleh pembukaan baru di sejumlah Negara. Sepanjang tahun lalu, perusahaan farmasi pelat merah ini telah menjajaki pasar baru di sejumlah Negara seperti Myanmar, Kanada dan Vietnam. Sementara itu eksekusi pasar ekspor akan dilakukan di tahun ini.

“Tahun ini pasar ekspor kami mencapat Rp 47 miliar,” katanya, Rabu (8/4)/

Farida melanjutkan, saat ini porsi ekspor terhadap penjualan perseroan memang masih minim. Kendati ditargetkan tumbuh signifikan, porsi ekspor terhadap penjualan perseroan ini diprediksi tidak akan jauh berubah. Pasalnya kenaikan pasar domestic diprediksi juga akan tetap tinggi.

Adapun tahun ini emiten KAEF menargetkan pertumbuhan 16% menjadi Rp 5,3 triliun. Menurut catatan, target pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dari target awal tahun yang dipatok perseroan. Saat itu, Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman menargetkan pertumbuhan penjualan hanya 13%.

Farida menuturkan, tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal Rp 590 miliar. Adapun sekitar Rp 118 miliar atau 20% dari anggaran capex tersebut akan dipakai untuk menambah jumlah klinik dan apotek baru. Tahun ini perseroan menargetkan masing-masing fasilitas tersebut bisa bertambah hingga 100 unit.

Sementara itu, dalam RUPS Tahunan, perseroan memutuskan untuk membagikan dividen kepada pemegang saham. Jumlahnya mencapai Rp 46,92 miliar alias 20% dari total laba perseroan di tahun lalu sebesar Rp 234,6 miliar. Dengan demikian, jumlah per lembar sahamnya mencapai Rp8,44. Adapun 80% dari laba bersih akan digunakan untuk pengembangan perseroan sebagai retained earning