VARIA.id, Jakarta - Pelaku industri farmasi menaruh harapan besar untuk terus tumbuh pada tahun ini. Hal ini terlihat dari rencana ekspansi bisnisnya.

Salah satunya ditunjukkan PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Perusahaan farmasi ini menganggarkan belanja modal sebesar Rp 590 miliar untuk membangun pabrik. KAEF juga akan membangun 100 apotek dan 100 klinik sampai akhir tahun. Alasannya, ada peluang bisnis yang besar di pasar ritel tersebut.

Dari mana dana segar didapat?

“Sumber dana modal berasal dari kas internal perusahaan dan permodalan dari pihak perbankan,” jawab Direktur Keuangan Kimia Farma Farida Astuti di Jakarta, Rabu, 8 April 2015.

Farida menjelaskan sebesar 40 persen dari dana tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik farmasi baru di daerah Banjaran, Bandung. Sisanya akan digunakan untuk pembiayaan manufaktur, ekspansi pabrik, peremajaan mesin, pembangunan apotik, dan membeli mesin baru.

Pada 2014 lalu, Kimia Farma  telah mendirikan sekitar 105 apotek baru. Perusahaan ini memiliki 617 apotek di seluruh Indonesia. Sebanyak 113 terletak di Jawa dan Sumatera, 51 di Bali dan Nusa Tenggara, 59 di Kalimantan dan 71 di Sulawesi, Maluku dan Papua.

Pada tahun 2018 mendatang, Kimia Farma menargetkan akan memiliki 1.000 apotek dan klinik. Perusahaan farmasi ini juga akan  menambah dua apotek di Malaysia pada tahun ini. Bekerja sama dengan perusahaan farmasi asal Malaysia yaitu Averroes Pharmaceutical, Sdn, Bhd.

Sebelumnya, kedua perusahaan itu telah mendirikan apotek KF-Averroes di Shah Alam, Kuala Lumpur, Malaysia pada 2013. Usaha apotek dijalankan oleh anak usaha perseroan yaitu PT Kimia Farma Apotek.

Sepanjang 2014, perusahaan farmasi ini meraup laba bersih sebesar Rp 236,5 miliar naik 9,69 persen dibandingkan 2013 sebesar Rp 215,6 miliar. Sedangkan penjualan bersih tumbuh 3,98 persen dari Rp 4,35 triliun menjadi Rp 4,52 triliun.

Laba bersih per saham naik 9,35 persen menjadi Rp 42,24 dari Rp 38,63. Per 31 Desember 2014, total aset perseroan naik 20,08 persen dari Rp 2,47 triliun pada 2013 menjadi Rp 2,97 triliun. Sementara liabilitas tercatat Rp 1,15 triliun naik 36,51 persen dari Rp 847,58 miliar.

Kenaikan laba dan penjualan juga mengerek beban pokok menjadi Rp 3,13 triliun atau naik tipis 2,62 persen dibandingkan tahun 2013 sebesar Rp 3,05 triliun.

Sedangkan laba usaha tercatat naik 16,58 persen menjadi Rp 342,48 miliar dari Rp 293,76 miliar.

Kinerja tersebut menyebabkan laba bersih per saham mencapai Rp 42,24 miliar per saham atau naik 9,75 persen dibandingakan Rp 38,63 per saham.

Ia menjelaskan total aset 2014 naik 20,08 persen menjadi Rp 496 miliar dengan liabilitas naik 36,5 persen menjadi Rp 309 miliar.

Kenaikan tersebut disebabkan peningkatan kas dan setara kas yang lebih tinggi dari kenaikan pembayaran kepada pemasok, karyawan, dan beban usaha.

Peningkatan tersebut tercatat sebesar 45,47 persen atau sebesar Rp 179 miliar yang disebabkan penerimaan dari pelanggan naik Rp 295 miliar.

Tingkatkan laba 

Perusahaan ini juga menargetkan laba sebesar Rp 256 miliar pada tahun 2015, atau naik 8,24 persen dari posisi laba sebesar Rp 236,5 miliar di tahun lalu.

Perseroan juga meningkatkan penjualan hingga Rp 5,4 triliun, atau naik dari posisi penjualan Rp 4,5 triliun dari  tahun lalu.

Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan penjualan ekspor akan ditingkatkan  sekitar 65 persen dari Rp 47 miliar penjualan ekspor tahun lalu.

“Untuk mengenjot target tersebut, kami menyasar 10 negara yang akan menjadi target ekspor di antaranya Myanmar, Kanada, Vietnam dan Afrika,” kata Rusdi Rosman.

Menurutnya laju pertumbuhan non ekspor lebih tinggi, namun impor bahan baku obat yang  tinggi membuat perusahaan ini berencana menaikan sebagian harga obat antara 5 hingga 12 persen.

Sementara itu, perusahaan juga akan membagikan dividen sebesar Rp 8,44 per saham atau sebesar Rp 46,924 miliar. Dividen tersebut dianggarkan 20 persen dari laba bersih yang diterima.

Rusdi mengatakan pembayaran dividen tunai kepada pemegang saham perseroan akan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

Selain dialokasikan untuk dividen, sebanyak Rp 188 miliar juga atau 80 persen dari laba bersih akan dibukukan sebagai saldo laba yang ditahan perseroan.*


Read more: http://www.varia.id/2015/04/10/kimia-farma-kembangkan-bisnis-ritel/#ixzz3WsYOWoJB