Bisnis.com, JAKARTA--- Perusahaan farmasi milik negara, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. berminat melakukan penawaran saham baru (right issue) guna memenuhi kebutuhan pendanaan perusahaan pada tahun depan.
 
Direktur Utama Kimia Farma Rusdi Rosman mengatakan right issue tersebut merupakan salah satu pilihan alternatif bagi perusahaan dalam memperoleh dana. Emiten berkode saham KAEF membutuhkan dana sekitar Rp1 triliun pada 2016.
 
Rusdi mengatakan right issue tersebut tidak dilakukan pada tahun ini karena proses perizinannya cukup panjang karena harus berbicara dengan pemerinta dan DPR. “Sekali lagi, ini alternatif,” katanya seusai rapat dengar pendapat di Komisi VI DPR, Kamis (16/4).
 
Pada saat ini, saham KAEF yang dimiliki oleh investor publik baru mencapai 10% dan sebagian besar saham lainnya dengan porsi 90% dimiliki oleh negara. Dengan porsi kepemilikan publik sebesar 10%, Rusdi menyebut saham perseroan tidak likuid.
 
Perseroan belum berencana mengajukan penyertaan modal negara (PMN) sebagai bagian dari wacana right issue ini. Seperti diketahui, pada umumnya, sejumlah BUMN lain mengajukan PMN sebelum melakukan right issue agar porsi kepemilikan pemerintah tidak terdilusi.
 
Selain right issue, perusahaan juga mempertimbangkan untuk menerbitkan obligasi pada tahun depan guna memenuhi kebutuhan pendanaan perusahaan. “Belum pasti Rp1 triliun, kalau diijinkan right issue, kami akan melakukan right issue saja,” katanya.
 

Pada saat ini, jumlah ekuitas perusahaan mencapai Rp1,81 triliun. Kapitalisasi pasar perusahaan mencapai Rp7,3 triliun pada Maret 2015 atau meningkat 46,11% dibandingkan dengan Rp4,9 triliun pada periode sama 2014. Laba per saham perusahaan mencapai Rp42,24 pada 2014