KAEF menggelontorkan investasi sebesar Rp 110 miliar untuk pembangunan pabrik bahan baku obat di Cikarang, Jawa Barat. Kimia Farma juga menggandeng perusahaan Korea Selatan, Sungwun Pharmacopia Co Ltd melalui perwakilannya di Indonesia PT Sungwun Pharmacopia Indonesia

Direktur Utama Kimia Farma, Rusdi Rosman menjelaskan, dengan pembangunan pabrik baru tersebut, perseroan dapat menekan biaya produksi hingga 10 persen

”Selama ini sebagian besar bahan baku obat atau mencapai 96 persen berasal dari impor. Dengan membangun pabrik bahan baku kami berharap bisa menekan biaya hingga 10 persen,” jelas Rusdi

Menurutnya, perseroan menyiapkan investasi sebesar Rp 110 miliar untuk pembangunan pabrik tersebut

Untuk tahap pertama, pabrik ini direncanakan memproduksi 14-15 jenis active pharmaceutical ingredient. Per tahun nya diprediksi dapat menghasilkan 30 ton bahan baku aktif, yang terdiri dari delapan bahan baku obat dan tujuh bahan suplemen

”Kebutuhan bahan baku obat di Indonesia mencapai 60 ton pertahunnya. Sementara, ada 1056 item yang masih diimpor dengan nilai Rp 25 triliun, ini merupakan potensi pasar yang besar, untuk tahap awal 100 persen hasil produksi kita jual ke dalam negeri,” tegas Rusdi

Dia menjelaskan, proses pembangunan pabrik akan dimulai pada 2016. Diharapkan dalam tempo 1.5 – 2 tahun kedepan, pabrik yang berlokasi di Lippo Cikarang ini bisa beroperasi. Dengan demikian, pembangunan pabrik diprediksi selesai pada akhir tahun 2017 dan sudah bisa memproduksi bahan baku obat aktif untuk mencukupi sekitar 20 persen kebutuhan nasional

Terkait kerjasama dengan PT Sungwun Pharmacopia Indonesia yang merupakan perwakilan dari dari Sungwun Pharmacopia Co Ltd, diterangkan Rusdi, perusahaan asal Negeri Gingseng tersebut mempunyai teknologi terbaru untuk produksi active pharmaceutical ingredient (API)

”Mereka juga mempunyai pasar di Amerika dan Jepang, kedepan kami memang membidik pasar ke negara tersebut,” paparnya

Ini merupakan pembangunan pabrik bahan baku obat atau API kedua yang dibangun perseroan


Sebelumnya, KAEF telah membangun pabrik bahan baku garam farmasi yang saat ini sudah selesai 100 persen pembangunannya dan masih menunggu izin sertifikasi BPOM

Rusdi menambahkan, perseroan juga berencana masuk ke bisnis garam industri pada 2019 setelah debut proyek dua pabrik garam farmasi rampung dan berproduksi

Dia mengatakan, KAEF kini memiliki hak paten garam farmasi sehingga mudah bagi perusahaan memproduksi jenis garam lain

”Kami mau masuk ke situ juga karena teknologinya dari kami sekarang, hasil kerjasama BPPT dengan Kimia Farma,” katanya

Komisaris Kimia Farma Wahono Sumaryono menambahkan, tidak sulit bagi perseroan mengembangkan garam industri karena saat ini telah memiliki teknologi garam farmasi yang lebih canggih

Kadar natrium klorida (NaCl) garam farmasi mencapai 99,7% sedangkan garam industri lebih rendah, yakni 95%

”Kalau garam farmasi sudah bisa, garam industri lebih gampang karena tingkat kemurniannya beda. Namun, perseroan belum menyusun rencana kapasitas produksi berikut nilai investasi yang dibutuhkan,” katanya

 

*Rakyat Merdeka, Senin 28 Desember 2015