Jakarta,– PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) dan PT Sungwun Pharmakopia Indonesia telah menandatangani akta pendirian PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia di Kantor Pusat Kimia Farma (25/1).

 

Pendirian perusahaan patungan yang memiliki kegiatan usaha pembuatan bahan baku obat Active Pharmaceutical Ingridient dan High Functional Chemical merupakan pengembangan usaha Perseroan melalui entitas anak yang akan memberikan jaminan ketersediaan bahan baku atas produk obat yang akan diproduksi Kimia Farma Sungwun Pharmacopia.

Sebelumnya, KAEF telah membangun pabrik bahan baku garam farmasi yang saat ini sudah selesai 100% pembangunannya dan sudah mendapatkan ijin sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

KAEF akan membangun pabrik bahan baku obat aktif (Active Pharmaceutical Ingredient / API) bekerja sama dengan PT Sungwun Pharmacopia Indonesia perwakilan dari Sungwun Pharmacopia Co. Ltd dari Korea Selatan, dengan konsep kerja sama Joint Venture (JV) dengan porsi kepemilikan KAEF sebagai pemegang saham mayoritas.

 

Adapun jajaran Dewan Komisaris dan Direksi yang akan memimpin perusahaan Kimia Farma Sungwun Pharmacopea tersebut, yaitu :

Komisaris Utama         : Rusdi Rosman

Komisaris                   : Bambang Marwoto

Komisaris                   : Kadarsyah

Direktur Utama           : Verdi Budidarmo

Diektur Keuangan       : Nuzirwan

Direktur Operasional   : Lee Ki Bong

 

Pabrik tersebut akan dibangun sesuai dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP), yang akan dimulai proses pembangunannya pada tahun 2016 ini, berlokasi di Lippo Cikarang. Pembangunan pabrik ini diperkirakan akan selesai pada akhir tahun 2017 dan sudah dapat memproduksi bahan baku obat aktif untuk mencukupi sekitar 20% kebutuhan bahan baku obat nasional dan sisanya akan diekspor ke luar negeri antara lain ke Korea, Jepang, Amerika dan beberapa negara Eropa.

KAEF optimis, dengan berdirinya pabrik bahan baku obat aktif ini, akan membantu program Kemandirian Bahan Baku Obat yang telah dicanangkan oleh Pemerintah, sehingga ke depannya akan mengurangi ketergantungan akan impor bahan baku obat aktif dan efisiensi terhadap biaya bahan baku yang pada akhirnya dapat menurunkan biaya pengadaan bahan baku.