PT Kimia Farma (Persero) Tbk. melakukan launching aplikasi Whistle Blowing System (WBS) sebagai sarana untuk menampung pengaduan-pengaduan pelanggaran yang berhubungan dengan karyawan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. pada hari Senin, 29 Februari 2016.

 

Bertempat di Ruang Sukaryo, PT Kimia Farma (Persero) Tbk. dan dihadiri oleh Dewan Komisaris, Seluruh Direksi Holding maupun Anak Perusahaan, General Manager serta Para Manager PT Kimia Farma (Persero)Tbk

 

Dalam sambutannya, Komisaris Utama mengatakan bahwa WBS merupakan sarana untuk melakukan suatu perubahan sehingga semua laporan akan tertib, dilihat benar atau tidaknya , dengan tujuannya adalah agar kita mempunyai perusahaan yang Good Corporate Governance yang lebih baik.

WBS bukan merupakan suatu ajang untuk fitnah menfitnah, karena didalam fasilitas pelaporan ini kita melakukan penanganan pengaduan pelanggaran berdasarkan prioritas. Diharapkan laporan prihal pelanggaran tersebut memiliki dasar dan lengkap, dalam artian bahwa laporannya harus terstruktur (memiliki dasar pelaporan serta penulisan) dan juga didukung dengan bukti-bukti. Apabila sudah memenuhi syarat pelaporan, maka pelaporan itu akan menjadi prioritas pertama yang dikelola, tapi kalau yang sifatnya lebih menjurus ke fitnah maka laporan tersebut akan diabaikan.

 

Sistem ini juga difasilitasi dengan pelindungan dan kerahasian pelapor. Data-data dari pelapor akan dirahasiakan dan tidak diungkap kepada publik. Pemegang akun laporan adalah Unit Kepatuhan dan Manajemen Risiko itu sendiri.

WBS adalah wadah dimana insan kimia farma boleh melakukan pelaporan apapun pelanggaran gratifikasi, benturan kepentingan termasuk apabila ada penyalahgunaan seperti pelecahan seksual itu oleh dilaporkan kedalam WBS.

Proses pelaporan maksimal dalam waktu 7 hari semenjak pemberitahuan pertama seharusnya sudah ada jawaban

WBS yang efektif akan mendorong partisipasi karyawan perusahaan untuk lebih berani bertindak untuk mencegah terjadinya kecurangan dan korupsi dengan melaporkannya ke pihak yang dapat menanganinya. Diharapkan WBS mampu untuk mengurangi budaya “diam” menuju ke arah budaya “kejujuran dan keterbukaan”.