KAEF DUKUNG TARGET ELIMINASI TB TAHUN 2030

PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) menegaskan komitmennya dalam mendukung percepatan eliminasi Tuberkulosis (TB) pada tahun 2030. Sebagai salah satu mitra strategis pemerintah dan tulang punggung kesehatan nasional, Kimia Farma memiliki kapabilitas terintegrasi mulai dari produksi bahan baku dan obat jadi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung upaya pencapaian target eliminasi TB pada tahun 2030 dan Indonesia bebas TB pada tahun 2050.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan eliminasi TB sebagai salah satu agenda prioritas kesehatan. Saat ini, TB masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Berdasarkan Global TB Report tahun 2024 dan data dari Kemenkes Indonesia 2025, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia setelah India, dengan estimasi sekitar 1.090.000 kasus TB dan sekitar 125.000 kematian per tahun*. Menurut data Kemenkes pada 2024 ada sekitar 885.000 kasus TB yang telah ditemukan dan dilaporkan.

Komitmen KAEF dalam eliminasi TB ditunjukkan dengan portofolio varian obat penanggulangan TB yang lengkap, yang mencakup kebutuhan untuk kategori TB Sensitif Obat (DS-TB) maupun TB Resisten Obat (DR-TB). Beberapa sediaan sudah dalam bentuk kombinasi dosis tetap (Fixed-Dose Combination/FDC) yang didesain khusus untuk pasien dewasa maupun anak-anak.

Seiring dengan tantangan resistensi dan kebutuhan terapi yang lebih efektif, KAEF terus melakukan pengembangan dan kesiapan produksi untuk inovasi terapi TB. Salah satunya adalah produk anti-infeksi TB Moxifloxacin yang diluncurkan sejak tahun 2025. KAEF juga menyiapkan kesiapan produksi untuk mendukung implementasi regimen TB yang lebih efektif di masa mendatang.

Di sisi hulu, KAEF memiliki kapasitas produksi skala besar untuk menjamin pasokan obat nasional. Produksi obat ditopang oleh fasilitas pengembangan formulasi dan produksi modern milik Kimia Farma di Jakarta dan Banjaran dengan total kapasitas produksi mencapai lebih dari 500 juta tablet per tahun. Integrasi ekosistem terpadu yang menghubungkan proses penanganan dari awal hingga akhir inilah yang membuat KAEF memiliki kekuatan sebagai tulang punggung atau backbone sistem kesehatan nasional.

“KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end dari produksi, distribusi, hingga layanan kesehatan untuk mendukung kesehatan nasional, termasuk eliminasi TB di tahun 2030,” kata Direktur Komersial KAEF, Hanadi Setiarto saat menghadiri Forum Nasional TB 2026: National Policy and Implementation of the TB Program pada Selasa, 7 Juli 2026.

Melalui forum bertema End-to-End Tuberculosis Environment (Innovation, Business & Collaboration) yang diselenggarakan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI tersebut, KAEF menegaskan kesiapannya untuk mengorkestrasi seluruh rantai nilai kesehatan dari hulu ke hilir guna menjawab tantangan kesehatan nasional tersebut.

Tiga Sektor Layanan KAEF untuk Eliminasi TB di Indonesia

KAEF memiliki ekosistem terintegrasi end-to-end untuk mendukung target eliminasi TB di tahun 2030, mulai dari sektor diagnostik, distribusi rantai pasok, hingga pelayanan kesehatan. Sebab, penanggulangan TB yang efektif dimulai dari penemuan kasus secara dini.

KAEF tidak hanya memproduksi obat, melainkan juga turut mendukung penyediaan infrastruktur diagnostik untuk deteksi dini TB di lapangan, termasuk penyediaan fasilitas alat uji TB LAMP dan skrining berbasis X-Ray untuk mempercepat proses penapisan dini atau screening. Skrining TB adalah pemeriksaan awal untuk mendeteksi kemungkinan adanya infeksi bakteri penyebab tuberkulosis di dalam tubuh.

Dalam mendukung distribusi rantai pasok, KAEF memiliki jaringan distribusi terintegrasi dari hulu-ke-hilir yang didukung oleh 44 cabang di seluruh Indonesia. Melalui jaringan tersebut, KAEF berharap dapat mengoptimalkan distribusi obat program JKN dan kebutuhan logistik TB tersalurkan secara konsisten, aman, dan merata, termasuk ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Di lini retail dan layanan langsung, KAEF memiliki ekosistem hilir, terdiri dari lebih dari 1000 jaringan Apotek, lebih dari 350 Klinik Kesehatan, dan 65 Laboratorium Medis yang bisa menjadi pusat penanganan terpadu. Jaringan ini berperan dalam mendukung kepatuhan terapi pasien melalui tenaga farmasis, mengelola rujukan klinis, serta mengintegrasikan data pasien secara real-time ke Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan.

"Integrasi end-to-end value chain ini adalah kontribusi KAEF sebagai mitra strategis pemerintah untuk mewujudkan target eliminasi TB pada tahun 2030 dan bebas TB pada tahun 2050,” ujar Djagad menambahkan.

Eliminasi TB Menjadi Agenda Prioritas Kesehatan Nasional

Pemerintah Indonesia telah menetapkan eliminasi TB sebagai salah satu agenda prioritas kesehatan nasional, sejalan dengan komitmen global End TB Strategy dan arah pembangunan nasional, termasuk penguatan kualitas sumber daya manusia, ketahanan kesehatan, serta transformasi layanan kesehatan.

Dalam konteks Asta Cita Presiden Republik Indonesia, percepatan penanggulangan TB memiliki makna strategis karena TB tidak hanya berdampak pada derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga pada produktivitas, perlindungan sosial, pembiayaan kesehatan, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Kimia Farma hadir sebagai mitra strategis pemerintah. Perseroan tidak hanya memandang isu ini sebagai tanggung jawab publik, tetapi juga sebagai mandat kedaulatan bangsa yang membutuhkan keterlibatan aktif industri farmasi nasional.

* Sumber: https://www.tbindonesia.or.id/